Bupati LSM LIRA Jember Minta Anggota DPRD Propinsi Cek Langsung Lokasi Agar Tahu Sebenarnya

Gravatar Image
  • Whatsapp

Jember, LiraNews – Anggota DPRD Propinsi seyogyanya cek langsung lokasi agar tahu sebenarnya. Hal itu disampaikan Bupati LSM LIRA (Lumbung Informasi Rakyat) Jember, H Achmad Sudiyono dalam rapat kunjungan kerja Komisi D DPRD Propinsi Jawa Timur ke Pemkab Jember pada Selasa 15 Juni 2021 .

Kunjungan kerja ini sebagai tindak lanjut laporan LSM LIRA Jember atas temuan adanya Tambak yang tidak tepat lokasi maupun pengelolaan Limbah nya sehingga merugikan penduduk desa Kepanjen Kecamatan Gumuk Mas, Kabupaten Jember.

Read More
banner 300250

Kunjungan Komisi D dipimpin ketua Rombongan H Satib yang juga legislator asal Jember, di dampingi anggota DPRD lainnya asal Surabaya, Blitar, Banyuwangi serta perwakilan dari Dinas Lingkungan Hidup Propinsi Jawa Timur,

Rapat di pimpin oleh Asisten II mewakili bupati Jember, didampingi OPD terkait seperti Dinas Lingkungan Hidup, Dinas PTSP, Dinas Perindustrian dan Perdagangan dan Dinas Perikanan serta perwakilan dari Badan Pertanahan Nasional serta Camat dari Puger dan camat Gumuk Mas.

Secara gamblang Bupati LSM LIRA memaparkan hasil temuan bahwa banyak petambak baik perusahaan maupun perorangan yang tempat usahanya berada di Sempadan Pantai. Hal ini bertentangan dengan Perpres no 51 tahun 2016 dimana batas air pasang tertinggi dan sejauh 100 meter merjpakan area publik yang tidak boleh dikomersialkan papar H Achmad Sudiyono.

Selain persoalan Sempadan Pantai, juga ada temuan tidak ditemukannya Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) dan Instalasi Pengolahan Limbah Cair (IPLC) yang dimiliki oleh petambak sehingga limbah dibuang langsung ke Laut.

“Akibatnya nelayan merasakan dampaknya yaitu ikan tidak lagi ditemukan di sepanjang pantai, jika menangkap ikan maka harus ketengah laut, padahal perahu nelayan perahu jukung (perahu kecil) tentunya lebih berbahaya,” imbuh bupati LSM LIRA

Pada kesempatan yang sama salah seorang satgas LIRA sekaligus DPK LIRA Gumukmas yang sehari hari sebagai Badan Perwakilan Desa H Muklas mendapatkan laporan warga serta merasakan bahwa keberadaan tambak tidak memberikan keuntungan secara ekonomis bagi masyarakat setempat maupun Desa,

“Justru Limbah serta kincir angin yg dioperasikan petambak yang setiap tambak mengoperasikan 6-8 kincir angin menjadikan kerusakan bagi tanaman Pertanian karena uap air laut terbang dan mencemari lahan pertanian disekitar tambak,” sebutnya.

Secara spesifik Sekda LSM LIRA mempertegas keberadaan tambak secara legalitas nya seperti apa, karena area sepadan pantai dulu merupakan lahan reboisasi . “Tetapi keberadaan tambak justru merusak dan menebangi tanaman reboisasi seperti cemara udang yang juga sebagai penahan abrasi ,” papar Ronny sekda LSM LIRA Jember. LN-TIM

Related posts