Ratih Retnowati dan Dini Rijanti Tersangka Jasmas Datangi Kejari Tanjung Perak

| Diterbitkan Pada:
Keterangan Foto:
Bagikan:

Surabaya, LiraNews –– Takut akan dijemput paksa Ratih Retnowati dan Dini Rijanti, dua terdakwa kasus korupsi jasmas di DPRD kota Surabaya mendatangi kantor Kejari Tanjung Perak Jalan Kemayoran Baru no 4 Surabaya Rabu (4/9/2019).

Ratih saat tiba di gedung korps Adhyaksa, bersama sekitar 4 orang, dan ketika Ia melihat awak media, dirinya mengurungkan niatnya untuk masuk melalui pintu utama. Ia memilih berjalan masuk lewat pintu samping yang biasa digunakan menyimpan barang bukti.

Ratih berjalan dengan bersembunyi di balik punggung seorang laki-laki paruh baya yang dari tadi mendampinginya. Ketika ditanya sejumlah media, anggota DPRD Surabaya itu memilih diam. Dia mencepatkan langkahnya menaiki anak tangga menuju lantai dua ruang Pidsus.

Sedangkan tersangka Dini Rijanti lepas dari buruan awak media pasalnya saat itu Ia masuk ke ruang Pidsus ketika puluhan awak media disibukkan dengan mengabadikan Ratih Reynowati.

Hingga berita ini diturunkan belum ada konfirmasi dari pihak Kejari Tanjung Perak Surabaya.

Seperti diketahui, Dalam kasus yang sama ada juga mantan tiga anggota DPRD Surabaya yang sudah ditahan di cabang rutan klas I Surabaya pada Kejati Jatim. Mereka adalah Sugito asal partai Hanura, Darmawan asal partai Gerindra dan Binti Rochma asal partai Golkar

Kelima bekas legislator Yos Sudarso itu serta satu anggota DPRD Surabaya yang terpilih periode 2019-2024 yakni Ratih Retnowati ditetapkan sebagai tersangka berdasarkan surat perintah yang ditanda tangani Kajari Tanjung Perak, Rachmad Supriady, SH MH, dengan Nomor Print-01/0.5.42/Fd.1/02/2018 tertanggal 8 Februari 2018 lalu.

Dalam kasus dugaan korupsi ini, Kejari Tanjung Perak juga sudah menahan pihak swasta yaitu Agus Setiawan Tjong dan telah divonis pengadilan tipikor Surabaya selama 6 tahun penjara. Tjong merupakan pelaksana proyek pengadaan terop, kursi, meja, dan sound system pada 230 RT di Surabaya.

Dari hasil audit BPK, Proyek pengadaan program Jasmas tersebut bersumber dari APBD Pemkot Surabaya, tahun 2016 dan merugi hingga Rp 5 miliar akibat adanya selisih angka satuan barang yang dimainkan oleh Agus Setiawan Tjong.

Informasi yang dihimpun, program Jasmas ini merupakan produk dari sejumlah oknum DPRD kota Surabaya yang telah diperiksa penyidik. Tanpa peran ke enam sang legislator itu, program Jasmas dalam bentuk pengadaan ini tidak akan terjadi.

Penyimpangan dana hibah ini bermodus pengadaan. Ada beberapa pengadaan yang dikucurkan oleh Pemkot Surabaya, diantaranya untuk pengadaan terop, kursi chrom, kursi plastik, meja, gerobak sampah, tempat sampah dan sound system.

Reporter: Alamuddin

Wed Sep 4 , 2019
Jakarta, LiraNews — Indonesia terdiri dari beragam suku bahasa dan adat istiadat dan agama. Keberagaman tersebut menjadi  warna tersendiri dalam kehidupan sehari-hari. Bahkan menjadi ciri khas Indonesia yang sudah diakui dunia internasional. Aneka ragam seni dan budaya, seperti pakaian adat yang dipertontonkan pada perhelatan akbar, hari kemerdekan RI belum lama […]